Kisah Fahri Hamzah Resmikan Makam Syekh Umar Sumbawa: Spritualitasnya Hidup 100 Tahun

Kisah Fahri Hamzah Resmikan Makam Syekh Umar Sumbawa: Spritualitasnya Hidup 100 Tahun

Liputanbekasi.com – Dalam kunjungan ke Jawa Timur, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah meresmikan renovasi gerbang makam Waliyullah Syekh Umar Sumbawa di Kedungcowek Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/11/2020).

Demi melestarikan tempat bersejarah itu Fahri Hamzah mengusulkan agar Kawasan dikembangkan secara serius oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur khususnya Pemkot Surabaya.

“Selain mendapatkan pesan spiritualitas para pendakwah ini, masyarakat bisa menghidupi ekonomi sekitar,” terang Fahri dalam sambutannya di Surabaya.

Fahri Hamzah hadir di lokasi bersama Gus Fahmi yang merupakan cicit dari K.H. Hasbullah. Gus Fahmi adalah seorang pimpinan pesantren dan sebagai juru kunci makam. Hadir pula masyarakat Sumbawa yang berada di Surabaya serta Muspida setempat.

Lokasi makam ini ada di pantai utara Surabaya. Dari lokasi makam tampak jelas Jembatan Suramadu di sisi barat dan pulau Madura di sisi utara. Selain itu, di sekitar makam juga terdapat benteng yang masih kokoh sisa Perang Dunia II.

Ada dua kuburan di komplek makam dengan luas 15 Are tersebut. Yang pertama tertulis Waliyullah Syekh Umar Sumbawa dan Kedua tertulis K.H Hasbulloh. Setidaknya 10 ribuan jamaah setiap tahunnya dari Sulawesi, Sumatera, Madura, dan berbagai pesantren di Jawa Timur menghadiri Haul Syekh Umar Sumbawa.

Haul Waliyullah Syekh Umar Sumbawa rutin digelar setiap tanggal 20 Oktober Setiap Tahun. Yang menyebut Syekh Umar Sumbawa sebagai seorang Waliyullah adalah K.H. Hasbullah seorang Ulama Besar di daerah tersebut.

Sejarah Syekh Umar Sumbawa berawal dari penemuan mayat di pinggir pantai Kedung Cowek Surabaya. Jenazah tersebut lengkap dengan jubah yang masih berlumuran dengan darah dengan kepala terpisah. Oleh nelayan setempat jenazah tersebut dibuang ke tengah laut.

Namun belum juga para pembuang kembali, di pantai sudah ada lagi jenazah tersebut lengkap bersama kepalanya dalam keadaan terpisah. Hingga 7 kali para nelayan membuang jenazah tersebut namun lagi lagi jenazah kembali ke tempat awal.

Setahun lalu, Fahri Hamzah didampingi oleh Kombes Pol Indra Budi yang juga orang Sumbawa dan menjabat sebagai Dirlantas Polda Jatim berziarah ke Kedungcowek.

Dalam ziarah bersama tersebutlah lahir ide untuk memugar Gapura Makam. Saat itu, Fahri Hamzah menyambangi makam karena pesan Almarhum KH Maimoen Zubaer saat perjumpaan di Lasem, Rembang. Kala itu Mbah Moen berpesan: “Aku belajar banyak dari Syekh Umar Sumbawa.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here